Kamis, 11 Juni 2015

Belajar dari kegigihan dan ketabahan pak Tukino

Namanya pak Tukino. Ia telah menyeduh kopi dan aneka makanan ringan untuk di jual di kolong langit DPP KNPI semenjak tahun 2000 silam. Perawakannya yang uzur dan keriput kulitnya menjadi tanda ia telah jenuh menahan pengap dan polusi kendaraan bermotor yang keluar masuk dalam area parkir di kolong DPP KNPI. Namun ia tetap bertahan untuk menghidupi istri dan empat orang anaknya.

Jualannya ia jajakan pas disamping pintu keluar masuk area parkir. Mungkin ia berpikir, kopi dan panganannya sudi di singgahi oleh pengendara motor yang memarkir kendaraannya setelah bermacet ria di jalanan ibu kota.

Sebagai pengendara motor yang juga memarkir kendaraan di area parkir tersebut, awalnya saya acuh dan tak bergairah melihat pak tukino. Pemandangan orang-orang yang mengadu nasib di Jakarta kerap saya jumpai, dan apa yang di lakoni pak tukino menjadi pemandangan yang biasa bagi saya.

Namun lama kelamaan, setelah kerap memarkir motor persis di sebelah jualannya, secara sadar saya berusaha untuk ramah kepada pak tukino. Mula-mula saya tersenyum dan menyapanya setelah memarkir motor. Sekedar ingin menunjukkan keramahan sebelum menaiki gedung DPP KNPI tempat saya beraktivitas setelah penat dengan hiruk pikuk rapat-rapat di DPR RI.

Selain berusaha menarik perhatian pengendara motor yang lalu lalang, pak tukino memiliki pelanggan setia. Para satpam yang menjaga pekantoran-pekantoran di bilangan rasuna said kerap menikmati seduhan kopi pak tukino. Kadang saya perhatikan, sambil menyeduh kopi yang di pesan oleh para satpam, pak tukino mengobrol dan bersenda gurau dengan mereka.

Setelah berulang kali memarkir motor di sebelah jualannya, saya pun singgah untuk membeli kopinya. Ini saya lakukan karena saya teringat pesan-pesan kehidupan yang pernah dilontarkan bang saleh daulay dalam perjalanannya dengan saya ke suatu mall ternama di daerah Jakarta selatan. Apa yang pernah bang saleh katakan, sudah saya goreskan dalam tulisan saya di forum kompasiana dan blog pribadi saya ini.

Sebagai seorang perantau, saya selalu berusaha mempraktekan hal-hal baik yang saya pungut di jalan dari orang-orang yang saya jumpai. Karena itu, selain membeli kopinya, saya berusaha mengakrabi pak tukino. Mencoba menyelami semangat hidupnya dengan bertanya hal-hal yang berkaitan dengan jualan dan keluarganya.

Sore tadi saya mampir kembali seperti biasa, memesan kopinya dalam segelas plastik aqua. Rupanya ia sadar bahwa kopi yang ia seduh untuk saya beli sebelumnya terlalu panas. Dengan ramah ia bertanya, apakah kopinya ingin di minum dalam keadaan panas atau hangat? Hangat aja pak, jawab saya.

Di saat anak-anak muda tertawa lepas dalam ruangan-ruangan ber-AC di gedung DPP KNPI, pak tukino dengan sabar melayani pelanggan dalam peluh yang telah menyatu dengan kulit keriputnya. Hanya kipas angin butut yang menjadi oksigen selama berjam-jam ia mengadu untung di kolong langit itu.


Di saat anak-anak muda sibuk berkonflik dengan sesamanya, pak tukino dengan keramahannya berusaha tersenyum sambal menyeduh kopinya. pak tukino sadar, rejekinya bergantung seberapa mampu ia berkawan terutama dengan para pekerja (satpam), dan para pengendara motor seperti sayaSemoga rejekimu lancar pak Tukino!!