Sabtu, 08 Oktober 2016

Rindu Riung Tanah Flores yang Kucinta


 
Lama juga tak pulang ruing. Menengok orang tua yang semakin hari semakin tua renta. Menengok keluarga yang kadang mengerti bagaimana haru bahagia menjadi sebuah keluarga, kadang dalam waktu yang lama tak berselera untuk berkeluarga.

Saya bukan asli(suku) ruing, flores. Hanya karena sudah berpuluh-puluh tahun orang tua mencari hidup, adik-adik saya sudah beranak pinak disana, rindu ruing selalu mengisi kehampaanku tinggal di ibukota. Rindu melihat dermaga ruing dan menatap indahnya 17 pulau di ruing. Oh, kapan lagi kenangan indah itu datang?

Jika sudah berada di ruing, saya paling suka bermanja ria dengan ibu. Tidur berbantal kakinya yang tinggal tulang. Membantunya membuka kios tiap pagi dan menunggui kiosnya di siang hari ketika ibuku lelah. Karena kegigihan ibuku menjagai kiosnya yang sudah berpuluh-puluh tahun, aku bisa sekolah dan menjadi sarjana. Karena kegigihan ibuku itu, saya bisa menjadi ‘kuli’ di senayan. Bergaul dengan banyak orang.

Jika sudah berada di ruing, saya juga suka menikmati keindahan di pasar rakyat ruing. pasar rakyat yang selalu ada tiap Senin pagi dan bubar dengan sendirinya menjelang siang. Saya kagum dengan masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan(kami menyebutnya ‘orang Wangka’), yang bila hari pasar rakyat di ruing tiba, mereka berduyun-duyun datang dengan mobil truk yang yang sudah diatapi untuk berniaga dengan masyarkat ruing. kebanyakan orang-orang yang tinggal di sekitar pegunungan membawa beras untuk di jual. Dengan beras ‘orang wangka’, masyarakat ruing bisa terus hidup.

Bila hari pasar di ruing tiba, ibuku pun sibuk dengan beberapa pelanggannya. Ada yang datang berbelanja keperluan hidupnya. Ada yang datang melunasi utang, ada juga yang datang menambah utang. Seingatku, ibuku punya dua buku khusus yang berisi daftar pelanggan tetapnya, yang datang silih berganti, bertransaksi hidup dengan ibuku. Jika malam tiba, sesekali saya buka `buku khususnya’ itu, saya terpingkal-pingkal membaca ejaan lama tulisan ibuku.

Ruing!! disanalah ‘.nafasku’ berada. Disanalah keluargaku diajar betapa hidup tak mudah. Memulai hidup setelah keterpurukan hidup di kampung, di Bima. Ruing memang bukan tanah leluhur kami tapi sebagaian dari kami sudah terkubur di tanah ruing.


Senin, 25 April 2016

Kenangan Bersama Fahri Hamzah


Sekitar tahun 2007 saya mengenal Fahri Hamzah, politisi yang kini dikucilkan partai yang jatuh bangun dibesarkannya. Kala itu, sebagai aktivis mahasiswa yang datang dari daerah, dengan modal seadanya, saya berusaha bergaul dan berjejaring dengan siapapun yang saya anggap bisa mensupport perjalanan hidup saya sebagai seorang aktivis mahasiswa.

Sebagai seorang politisi yang cukup sering tampil di muka publik, gaya FH yang keras sering wara wiri di televise dan wajahnya sering nampang di media-media nasional. Waktu itu, organisasi tempat saya bernaung berlangganan koran/media cetak. Sepak terjang Fahri Hamzah sebagai politisi senayan pun sering saya ikuti. 

Naluri saya sebagai seorang aktivis yang minim jaringan dengan tanggap menangkap peluang untuk berusaha bertemu dan kenal dengan Fahri Hamzah. Syukur-syukur bisa berjejaring dengan FH. Dengan susah payah, saya menelusuri nomor kontak(HP) FH ke kawan-kawan aktivis yang saya kenal. Pikir saya waktu itu, saya harus bertemu dan berkenalan dengan FH. Dan setelah beberapa kali menghubungi bang Fahri dengan pendekatan primordial, saya berjanjian dengannya untuk bertemu di kantornya, di gedung DPR RI Lantai III Fraksi PKS.

Esoknya sesuai waktu yang di janjikan saya datang dan langsung menuju lantai III Fraksi PKS. Setelah di interogasi PAMDAL seperlunya, hendak bertemu siapa dan keperluannya apa, saya agak kaget setelah PAMDAL melapor ke ruangan bang FH, ternyata saya di temui oleh aspri beliau di pintu masuk. Asisten pribadi FH, yang belakangan saya ketahui adalah  mantan aktivis KAMMI mengatakan bahwa FH baru saja pergi.

Lewat asprinya, bang FH menitipkan sebuah amplop yang saya perhatikan agak tebal isinya untuk diserahkan ke saya. Setelah bertanya seperlunya tentang FH dan mengenai amplop tersebut, saya pun memutuskan untuk menolak titipan tersebut. PikIr saya waktu itu, jika saya menerima amplop tersebut, tak ada lagi kesempatan saya untuk bersilaturahmi. Saya pun akan diukur hendak menemuinya hanya untuk urusan amplop.
Dengan sedikit menggaruk kepala karena kepikiran amplop tersebut, saya pun berlalu dan memutar otak kembali agar bisa menemui bang FH, Tekad saya, harus mengenalnya dari dekat, saya harus berjabat tangan dengannya, memperkenalkan diri serta mengobrol dengannya.

Saya pun kembali menghubunginya lewat pesan pribadi. Kembali membuat janji esok harinya untuk berjumpa. Bang Fahri menekankan harus datang pagi-pagi. Karena FH adalah mantan aktivis mahasiswa, ia mungkin tau kebiasaan aktivis mahasiswa yang tak bisa menepati janji di pagi hari. Karena itu, malam harinya saya berusaha tidak tidur agar tak kesiangan. Saya perlu menemuinya sesuai janji yang disepakati agar ada kesan baik yang timbul. saya harus membangun hubungan baik dengannya.

Paginya, dengan semangat 45 saya mendatangi gedung DPR RI tempat bang Fahri sehari-hari berkantor. Setelah menunggu beberapa saat, saya dipersilahkan masuk ke ruang kerja bang Fahri. Setelah berjabat tangan dan berbasa-basi seperlunya, bang fahri pun bertanya tentang keberadaan dan aktivitas saya di Jakarta. Walaupun melalui komunikasi via pesan singkat, saya sudah terlebih dahulu memperkenalkan diri.

Hubungan perkawanan saya dengan bang Fahri selanjutnya berjalan baik dan penuh dinamika. Pernah suatu kali saya bermaksud mengundangnya menjadi pembicara di acara dialog anti korupsi yang saya adakan. FH menolak dengan alasan telah punya acara di tempat lain dalam waktu yang bersamaan. Seketika saya pun tersinggung dan berkomunikasi agak kasar via pesan pribadi dengannya. Setelah berdebat sengit melalui pesan pribadi, FH menelpon beberapa kali yang tidak saya hiraukan. Saya  pun meluncur ke tempat acara dialog yang saya adakan. Ditempat tujuan, Seketika saya kaget karena FH sudah berada di tempat acara dan menjadi pembicara. Entah gerangan apa yang membuat beliau hadir setelah sebelumnya saya bercakar-cakaran via pesan dengannya belum lama.

Kesan saya selama berhubungan baik dengan FH, beliau adalah pribadi yang serius namun peduli terhadap aktivis mahasiswa perantau. Kadang saya di ajak berdiskusi entah di ruangannya pun ketika semobil dengan beliau untuk menemaninya pergi ke suatu tempat tertentu untuk meeting. Beliau adalah pribadi yang terbuka tentang dirinya. Termasuk ketika ramai orang berbicara tentang latar belakang beliau yang bukan bergelar Hukum namun kerap sok pintar berbicara hukum. Sederhana saja beliau menjelaskan, saya dulu tarbiyah dan di sanalah saya terbiasa membincang topik-topik hukum.

Kini dalam kesunyiaannya, saya selalu berharap semoga beliau kuat, tabah dan tegar. Walaupun kadang saya khawatir, jangan-jangan apa yang pernah dikatakan orator ulung, Cicero menghinggapinya. Cicero pernah berkata, ‘Tetapi, aku cemas dalam diri semua manusia yang berhasil meraih ambisi hidup, terdapat garis tipis antara wibawa dan jemawa, percaya diri dan takabur, kemuliaan dan penghancuran diri. Semoga tidak!