Sekitar tahun 2007 saya mengenal Fahri
Hamzah, politisi yang kini dikucilkan partai yang jatuh bangun dibesarkannya.
Kala itu, sebagai aktivis mahasiswa yang datang dari daerah, dengan modal
seadanya, saya berusaha bergaul dan berjejaring dengan siapapun yang saya
anggap bisa mensupport perjalanan hidup saya sebagai seorang aktivis mahasiswa.
Sebagai seorang politisi yang cukup
sering tampil di muka publik, gaya FH yang keras sering wara wiri di televise
dan wajahnya sering nampang di media-media nasional. Waktu itu, organisasi
tempat saya bernaung berlangganan koran/media cetak. Sepak terjang Fahri Hamzah
sebagai politisi senayan pun sering saya ikuti.
Naluri
saya sebagai seorang aktivis yang minim jaringan dengan tanggap menangkap
peluang untuk berusaha bertemu dan kenal dengan Fahri Hamzah. Syukur-syukur
bisa berjejaring dengan FH. Dengan susah payah, saya menelusuri nomor
kontak(HP) FH ke kawan-kawan aktivis yang saya kenal. Pikir saya waktu itu,
saya harus bertemu dan berkenalan dengan FH. Dan setelah beberapa kali
menghubungi bang Fahri dengan pendekatan primordial, saya berjanjian dengannya
untuk bertemu di kantornya, di gedung DPR RI Lantai III Fraksi PKS.
Esoknya sesuai waktu yang di janjikan
saya datang dan langsung menuju lantai III Fraksi PKS. Setelah di interogasi
PAMDAL seperlunya, hendak bertemu siapa dan keperluannya apa, saya agak kaget
setelah PAMDAL melapor ke ruangan bang FH, ternyata saya di temui oleh aspri
beliau di pintu masuk. Asisten pribadi FH, yang belakangan saya ketahui adalah mantan aktivis KAMMI mengatakan bahwa FH baru
saja pergi.
Lewat asprinya, bang FH menitipkan
sebuah amplop yang saya perhatikan agak tebal isinya untuk diserahkan ke saya. Setelah
bertanya seperlunya tentang FH dan mengenai amplop tersebut, saya pun memutuskan
untuk menolak titipan tersebut. PikIr saya waktu itu, jika saya menerima amplop
tersebut, tak ada lagi kesempatan saya untuk bersilaturahmi. Saya pun akan
diukur hendak menemuinya hanya untuk urusan amplop.
Dengan sedikit menggaruk kepala karena
kepikiran amplop tersebut, saya pun berlalu dan memutar otak kembali agar bisa
menemui bang FH, Tekad saya, harus mengenalnya dari dekat, saya harus berjabat
tangan dengannya, memperkenalkan diri serta mengobrol dengannya.
Saya pun kembali menghubunginya lewat
pesan pribadi. Kembali membuat janji esok harinya untuk berjumpa. Bang Fahri
menekankan harus datang pagi-pagi. Karena FH adalah mantan aktivis mahasiswa, ia
mungkin tau kebiasaan aktivis mahasiswa yang tak bisa menepati janji di pagi
hari. Karena itu, malam harinya saya berusaha tidak tidur agar tak kesiangan.
Saya perlu menemuinya sesuai janji yang disepakati agar ada kesan baik yang
timbul. saya harus membangun hubungan baik dengannya.
Paginya, dengan semangat 45 saya
mendatangi gedung DPR RI tempat bang Fahri sehari-hari berkantor. Setelah
menunggu beberapa saat, saya dipersilahkan masuk ke ruang kerja bang Fahri.
Setelah berjabat tangan dan berbasa-basi seperlunya, bang fahri pun bertanya
tentang keberadaan dan aktivitas saya di Jakarta. Walaupun melalui komunikasi
via pesan singkat, saya sudah terlebih dahulu memperkenalkan diri.
Hubungan perkawanan saya dengan bang
Fahri selanjutnya berjalan baik dan penuh dinamika. Pernah suatu kali saya
bermaksud mengundangnya menjadi pembicara di acara dialog anti korupsi yang
saya adakan. FH menolak dengan alasan telah punya acara di tempat lain dalam
waktu yang bersamaan. Seketika saya pun tersinggung dan berkomunikasi agak
kasar via pesan pribadi dengannya. Setelah berdebat sengit melalui pesan
pribadi, FH menelpon beberapa kali yang tidak saya hiraukan. Saya pun meluncur ke tempat acara dialog yang saya
adakan. Ditempat tujuan, Seketika saya kaget karena FH sudah berada di tempat
acara dan menjadi pembicara. Entah gerangan apa yang membuat beliau hadir setelah
sebelumnya saya bercakar-cakaran via pesan dengannya belum lama.
Kesan saya selama berhubungan baik
dengan FH, beliau adalah pribadi yang serius namun peduli terhadap aktivis
mahasiswa perantau. Kadang saya di ajak berdiskusi entah di ruangannya pun ketika
semobil dengan beliau untuk menemaninya pergi ke suatu tempat tertentu untuk
meeting. Beliau adalah pribadi yang terbuka tentang dirinya. Termasuk ketika
ramai orang berbicara tentang latar belakang beliau yang bukan bergelar Hukum
namun kerap sok pintar berbicara hukum. Sederhana saja beliau menjelaskan, saya
dulu tarbiyah dan di sanalah saya terbiasa membincang topik-topik hukum.
Kini dalam kesunyiaannya, saya selalu
berharap semoga beliau kuat, tabah dan tegar. Walaupun kadang saya khawatir,
jangan-jangan apa yang pernah dikatakan orator ulung, Cicero menghinggapinya. Cicero
pernah berkata, ‘Tetapi, aku cemas dalam diri semua manusia yang berhasil
meraih ambisi hidup, terdapat garis tipis antara wibawa dan jemawa, percaya
diri dan takabur, kemuliaan dan penghancuran diri. Semoga tidak!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar