Selasa, 18 Agustus 2015

Dari hiruk Pikuk Jakarta menuju keterasingan Perbatasan (Bagian I)

Berfoto ria di wilayah perbatasan RI- republik Demokratik Timor Leste
Pada hari selasa tanggal 27 Juli 2015 lalu, saya kembali ke Propinsi Nusa Tenggara Timur(NTT) untuk menemani Ahmad Yohan, Sekretaris Jendral Barisan Muda PAN(BM PAN) yang juga adalah Wasekjen DPP PAN untuk mengantar Surat Keputusan DPP PAN tentang dukungan Partai Amanat Nasional(PAN) terhadap salah satu bakal calon Kepala Daerah di Kabupaten Belu-NTT, daerah yang berbatasan langsung dengan negara Demokratik Timur Leste.

Tepat jam 02.30 dini hari, pesawat Batik Air membawa kami dengan tujuan bandar udara El Tari-Kupang. Duduk di deretan bisnis class, saya pun menikmati semua fasilitas yang disediakan oleh maskapai. Ahmad Yohan terlihat kelelahan dan berusaha untuk terlelap selama dalam perjalanan. kesibukannya di DPP PAN telah merenggut waktu istirahatnya dan ia ingin membayar lunas pada saat penerbangan Jakarta-Kupang.

Sekitar jam 6 pagi Waktu Indonesia Tengah(Wita), Batik Air landing di Bandara El Tari-Kupang. Sengatan matahari pagi pun menyapa kami ketika menuruni anak tangga pesawat. Panas matahari pagi seketika menghapus senyum manis pramugari yang berucap terima kasih kepada kami karena telah menaiki maskapai batik Air.

Di pintu kedatangan kami telah di jemput oleh Marten, pengurus DPW PAN NTT 2015-2020. Rupanya Marten telah ‘diperintah’ oleh Awang NotoPrawiro, Ketua DPW PAN NTT untuk menjemput kami. Menumpangi Honda Mobilio, kami pun meluncur ke Aston Hotel untuk sejenak berisitirahat dan bersiap ke Atambua, ibukota Kabupaten Belu. Sesampai di hotel, pemandangan pulau kera di tengah laut menghapus rasa kantuk saya. Seketika, cerita kawan-kawan saya di HMI Cabang Kupang tentang pulau kera yang di huni oleh mayoritas muslim dan beberapa kali coba di kuasai oleh Tomy Winata terngiang-ngiang.

Tak lama berselang, hasan dating ke Hotel tempat kami beristirahat. Hasan adalah rekan seperjuangan kami di Jakarta yang juga berasal dari NTT. Orang tua dan istrinya berdomisili di kupang, dan ia pulang untuk berlebaran dengan mereka. Ahmad yohan kemudian mengajak kami untuk mengobrol di lounge Aston Hotel setelah bersih-bersih. Ia ingin menemui ketua DPW PAN NTT untuk membicarakan SK kandidat kepala daerah yang di dukung oleh Patai Amanat Nasional(PAN) dan berkomunikasi soal tekhnis keberangkatan ke Belu.

Setelah mengobrol ngalor-ngidul dan selfie dengan marten(kawan DPW PAN), pak Awang pun datang. Sejurus kemudian, soal SK kandidat dan tiket keberangkatan ke belu pun kelar. Namun karena padatnya penumpang, hanya Ahmad Yohan dan pak Awang(ketua DPW) yang menggunakan pesawat ke Belu. Itupun menggunakan pesawat Fokker(baling-baling). Ngeri juga!

Sekembalinya saya dan hasan dari bandara setelah mengantar pak awing dan ahmad Yohan menuju Belu, kami bersepakat untuk ikut juga ke Belu melalui jalan darat. Mulanya saya agak enggan karena dalam benak saya yang terbiasa menyusuri daerah-daerah di wilayah NTT, panorama yang disuguhkan hanyalah kemiskinan dan ketertinggalan. Namun karena sebelumnya juga sudah di minta oleh Ahmad Yohan untuk menyusul ke Belu, akhirnya kami mencarter mobil beserta sopir.

Tepat jam 12 Wita, kami keluar dari hotel setelah di jemput. Setelah singgah sebentar di rumah Hasan untuk berpamitan dengan ibu dan istrinya, kami pun menyusuri jalan menuju ke Atambua, ibukota kabupaten Belu. Waktu tempuh ke Atambua selama 6 jam dengan melewati kabupaten Kupang, Kabupaten Timur Tengah Selatan, dan Kabupaten Timur tengah Utara sebelum memasuki Atambua. Saya agak tercengang melihat kondisi jalan menuju Atambua yang begitu rapi nan mulus. Bagi saya yang agak terbiasa menyusuri jalan-jalan di wilayah flores(Ende, negekeo, ngada, manggarai, manggarai timur dan manggarai Barat), kondisi jalan di wilayah timor apik, sangat ciamik. Setelah bertanya pada Hasan, saya pun maklum. Sepanjang jalan menuju Atambua adalah jalan Negara.


Untuk menghilangkan kesuntukan di jalan, selain mengobrol dengan supir yang bernama Rudy, sesekali saya mengunyah jagung titi dalam toples biskuit yang di bawa Hasan. Istrinya membekali kami dengan panganan local, khas makanan sebagaian penduduk NTT. Mulanya saya tidak tertarik untuk menyentuh kaleng biscuit tersebut, apalagi membukanya. Namun setelah berkali-kali di tawari oleh Hasan karena mengira saya sudah sangat lapar, dengan berat hati saya mengambil dan membukanya. untuk menyenangkan hati Hasan, setelah memakan jagung titi itu, saya pun mengatakan kalau panganan ini enak tenan, tak ada duanya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar