![]() |
| Berfoto ria di wilayah perbatasan RI- republik Demokratik Timor Leste |
Tepat jam 02.30 dini hari, pesawat Batik Air membawa kami dengan
tujuan bandar udara El Tari-Kupang. Duduk di deretan bisnis class, saya pun menikmati semua fasilitas yang disediakan
oleh maskapai. Ahmad Yohan terlihat kelelahan dan
berusaha untuk terlelap selama dalam perjalanan. kesibukannya di DPP PAN telah
merenggut waktu istirahatnya dan ia ingin membayar lunas pada saat penerbangan
Jakarta-Kupang.
Sekitar jam 6 pagi Waktu Indonesia
Tengah(Wita), Batik Air landing di Bandara El Tari-Kupang. Sengatan matahari pagi pun menyapa kami ketika menuruni
anak tangga pesawat. Panas matahari pagi
seketika menghapus senyum manis
pramugari yang berucap terima kasih kepada kami karena telah menaiki maskapai batik Air.
Di pintu kedatangan kami telah di jemput oleh
Marten, pengurus DPW PAN NTT
2015-2020. Rupanya Marten telah ‘diperintah’
oleh Awang NotoPrawiro, Ketua DPW PAN NTT untuk menjemput kami. Menumpangi
Honda Mobilio, kami pun meluncur ke Aston Hotel untuk sejenak berisitirahat dan
bersiap ke Atambua, ibukota Kabupaten Belu. Sesampai di hotel, pemandangan
pulau kera di tengah laut menghapus rasa kantuk saya. Seketika, cerita kawan-kawan saya di HMI Cabang Kupang tentang pulau kera yang di huni oleh mayoritas muslim dan
beberapa kali coba di kuasai oleh Tomy Winata terngiang-ngiang.
Tak lama berselang, hasan dating ke Hotel tempat kami beristirahat. Hasan
adalah rekan seperjuangan kami di Jakarta yang juga berasal dari NTT. Orang tua
dan istrinya berdomisili di kupang, dan ia pulang untuk berlebaran dengan
mereka. Ahmad yohan kemudian
mengajak kami untuk mengobrol di lounge Aston Hotel setelah bersih-bersih. Ia ingin
menemui ketua DPW PAN NTT untuk membicarakan SK kandidat kepala daerah yang di
dukung oleh Patai Amanat Nasional(PAN) dan berkomunikasi soal tekhnis keberangkatan ke Belu.
Setelah mengobrol ngalor-ngidul dan selfie
dengan marten(kawan DPW PAN), pak Awang pun datang. Sejurus kemudian, soal SK
kandidat dan tiket keberangkatan ke belu pun kelar. Namun karena padatnya
penumpang, hanya Ahmad Yohan dan pak Awang(ketua DPW) yang menggunakan pesawat
ke Belu. Itupun menggunakan
pesawat Fokker(baling-baling). Ngeri juga!
Sekembalinya saya dan hasan dari bandara
setelah mengantar pak awing dan ahmad Yohan menuju Belu, kami bersepakat untuk
ikut juga ke Belu melalui jalan darat. Mulanya saya agak enggan karena dalam
benak saya yang terbiasa menyusuri daerah-daerah di wilayah NTT, panorama yang
disuguhkan hanyalah kemiskinan dan ketertinggalan. Namun karena sebelumnya juga
sudah di minta oleh Ahmad Yohan untuk menyusul ke Belu, akhirnya kami mencarter
mobil beserta sopir.
Tepat jam 12 Wita, kami keluar dari hotel
setelah di jemput. Setelah singgah sebentar di rumah Hasan untuk berpamitan
dengan ibu dan istrinya, kami pun menyusuri jalan menuju ke Atambua, ibukota
kabupaten Belu. Waktu tempuh ke Atambua selama 6 jam dengan melewati kabupaten
Kupang, Kabupaten Timur Tengah Selatan, dan Kabupaten Timur tengah Utara sebelum memasuki Atambua. Saya agak tercengang melihat
kondisi jalan menuju Atambua yang begitu rapi nan mulus. Bagi saya yang agak
terbiasa menyusuri jalan-jalan di wilayah flores(Ende, negekeo, ngada,
manggarai, manggarai timur dan manggarai Barat), kondisi jalan di wilayah timor
apik, sangat ciamik. Setelah bertanya pada Hasan, saya pun maklum. Sepanjang jalan
menuju Atambua adalah jalan Negara.
Untuk menghilangkan kesuntukan di jalan,
selain mengobrol dengan supir yang bernama Rudy, sesekali saya mengunyah jagung
titi dalam toples biskuit yang di bawa Hasan. Istrinya membekali kami dengan
panganan local, khas makanan sebagaian penduduk NTT. Mulanya saya tidak
tertarik untuk menyentuh kaleng biscuit tersebut, apalagi membukanya. Namun setelah berkali-kali di tawari oleh Hasan karena
mengira saya sudah sangat lapar, dengan berat hati saya mengambil dan membukanya. untuk menyenangkan hati Hasan, setelah memakan jagung titi itu, saya pun mengatakan kalau panganan ini enak tenan, tak ada duanya.
