Namanya pak
Tukino. Ia telah menyeduh kopi dan aneka makanan ringan untuk di jual di
kolong langit DPP KNPI semenjak tahun 2000 silam. Perawakannya yang uzur dan
keriput kulitnya menjadi tanda ia telah jenuh menahan pengap dan polusi
kendaraan bermotor yang keluar masuk dalam area parkir di kolong DPP KNPI. Namun ia tetap bertahan untuk menghidupi
istri dan empat orang anaknya.
Jualannya ia
jajakan pas disamping pintu keluar masuk area parkir. Mungkin ia berpikir, kopi dan
panganannya sudi di singgahi oleh pengendara motor yang memarkir kendaraannya
setelah bermacet ria di jalanan ibu kota.
Sebagai
pengendara motor yang juga memarkir kendaraan di area parkir tersebut, awalnya
saya acuh dan tak bergairah melihat pak tukino. Pemandangan orang-orang yang
mengadu nasib di Jakarta kerap saya jumpai, dan apa yang di lakoni pak tukino menjadi
pemandangan yang biasa bagi saya.
Namun lama
kelamaan, setelah kerap memarkir motor persis di sebelah jualannya, secara
sadar saya berusaha untuk ramah kepada pak tukino. Mula-mula saya tersenyum dan menyapanya
setelah memarkir motor. Sekedar ingin menunjukkan keramahan sebelum menaiki gedung DPP KNPI
tempat saya beraktivitas setelah penat dengan hiruk pikuk rapat-rapat di DPR RI.
Selain berusaha
menarik perhatian pengendara motor yang lalu lalang, pak tukino memiliki
pelanggan setia. Para satpam yang menjaga pekantoran-pekantoran di bilangan
rasuna said kerap menikmati seduhan kopi pak tukino. Kadang saya perhatikan,
sambil menyeduh kopi yang di pesan oleh para satpam, pak tukino mengobrol dan bersenda
gurau dengan mereka.
Setelah berulang
kali memarkir motor di sebelah jualannya, saya pun singgah untuk membeli
kopinya. Ini saya lakukan karena saya teringat pesan-pesan kehidupan yang
pernah dilontarkan bang saleh daulay dalam perjalanannya dengan saya ke suatu
mall ternama di daerah Jakarta selatan. Apa yang pernah bang saleh katakan,
sudah saya goreskan dalam tulisan saya di forum kompasiana dan blog pribadi saya ini.
Sebagai seorang
perantau, saya selalu berusaha mempraktekan hal-hal baik yang saya pungut di
jalan dari orang-orang yang saya jumpai. Karena itu, selain membeli kopinya,
saya berusaha mengakrabi pak tukino. Mencoba menyelami semangat hidupnya dengan
bertanya hal-hal yang berkaitan dengan jualan dan keluarganya.
Sore tadi saya
mampir kembali seperti biasa, memesan kopinya dalam segelas plastik aqua.
Rupanya ia sadar bahwa kopi yang ia seduh untuk saya beli sebelumnya terlalu panas. Dengan ramah ia
bertanya, apakah kopinya ingin di minum dalam keadaan panas atau hangat? Hangat aja pak, jawab saya.
Di saat anak-anak
muda tertawa lepas dalam ruangan-ruangan ber-AC di gedung DPP KNPI, pak tukino
dengan sabar melayani pelanggan dalam peluh yang telah menyatu dengan kulit
keriputnya. Hanya kipas angin butut yang menjadi oksigen selama berjam-jam ia
mengadu untung di kolong langit itu.
Di saat anak-anak
muda sibuk berkonflik dengan sesamanya, pak tukino dengan keramahannya berusaha
tersenyum sambal menyeduh kopinya. pak tukino sadar, rejekinya bergantung
seberapa mampu ia berkawan terutama dengan para pekerja (satpam), dan para pengendara motor seperti saya. Semoga
rejekimu lancar pak Tukino!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar