Lama juga tak pulang ruing. Menengok orang tua yang semakin hari semakin tua renta. Menengok keluarga yang kadang mengerti bagaimana haru bahagia menjadi sebuah keluarga, kadang dalam waktu yang lama tak berselera untuk berkeluarga.
Saya bukan asli(suku) ruing, flores. Hanya karena
sudah berpuluh-puluh tahun orang tua mencari hidup, adik-adik saya sudah beranak
pinak disana, rindu ruing selalu mengisi kehampaanku tinggal di ibukota. Rindu melihat
dermaga ruing dan menatap indahnya 17 pulau di ruing. Oh, kapan lagi kenangan
indah itu datang?
Jika sudah berada di ruing, saya paling suka bermanja
ria dengan ibu. Tidur berbantal kakinya yang tinggal tulang. Membantunya membuka
kios tiap pagi dan menunggui kiosnya di siang hari ketika ibuku lelah. Karena kegigihan
ibuku menjagai kiosnya yang sudah berpuluh-puluh tahun, aku bisa sekolah dan
menjadi sarjana. Karena kegigihan ibuku itu, saya bisa menjadi ‘kuli’ di
senayan. Bergaul dengan banyak orang.
Jika sudah berada di ruing, saya juga suka menikmati
keindahan di pasar rakyat ruing. pasar rakyat yang selalu ada tiap Senin pagi
dan bubar dengan sendirinya menjelang siang. Saya kagum dengan masyarakat yang
tinggal di daerah pegunungan(kami menyebutnya ‘orang Wangka’), yang bila hari
pasar rakyat di ruing tiba, mereka berduyun-duyun datang dengan mobil truk yang
yang sudah diatapi untuk berniaga dengan masyarkat ruing. kebanyakan
orang-orang yang tinggal di sekitar pegunungan membawa beras untuk di jual. Dengan
beras ‘orang wangka’, masyarakat ruing bisa terus hidup.
Bila hari pasar di ruing tiba, ibuku pun sibuk dengan
beberapa pelanggannya. Ada yang datang berbelanja keperluan hidupnya. Ada yang datang
melunasi utang, ada juga yang datang menambah utang. Seingatku, ibuku punya dua
buku khusus yang berisi daftar pelanggan tetapnya, yang datang silih berganti, bertransaksi
hidup dengan ibuku. Jika malam tiba, sesekali saya buka `buku khususnya’ itu,
saya terpingkal-pingkal membaca ejaan lama tulisan ibuku.
Ruing!! disanalah ‘.nafasku’ berada. Disanalah keluargaku
diajar betapa hidup tak mudah. Memulai hidup setelah keterpurukan hidup di kampung,
di Bima. Ruing memang bukan tanah leluhur kami tapi sebagaian dari kami sudah
terkubur di tanah ruing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar